Internet Itu Kanker.

Internet sudah menjadi hal yang wajib di era sekarang. Orang bisa berubah menjadi lebih panik, atau merasa dunia berjalan lambat jika tidak mengakses internet sehari. Kekuatan internet ini sangatlah kuat, layaknya tayangan iklan kepada anak kecil. Saking kuatnya, orang dengan mudah percaya apa yang ada di internet dan menelan informasi tersebut dengan bulad-bulad (yes gua nulis sengaja pake D karena emang ‘mentah’ banget informasi yang ditelan.) sehingga mereka melupakan kelemahan yang paling fatal karena telah menelan informasi bulad-bulad.

cr:giphy

Continue reading

Kenapa? [Cersupen]

Hujan turun juga akhirnya, melembabkan kota Tangerang ini. Yang belakangan ini membuat gerah banyak orang dengan panas dari matahari yang tak dapat dihindarkan.

Di pojok sebuah cafe aku duduk, dengan coklat hangat dan juga roti lapis dengan selembar daging sapi, keju dan juga telur. Menjadi kebiasaan baruku setelah temanku merekomendasikan tempat ini. Menjadi tempat diriku untuk menyendiri.

Entah karena semakin kesini masyarakat menjadi lebih tidak masuk akal, atau justru aku yang tidak menerima masyarakat yang ada dengan ikhlas?
Menyendiri menjadi satu cara yang menyenangkan bagiku, karena aku harus diam, tak ada orang yang iseng mengajak berbicara, tidak perlu berkomunikasi basa-basi dengan orang yang tidakku kenal sebelumnya, dan berdiam diri ditempat umum tapi tak begitu dikenal secara umum.

Hujan yang turun membuat banyak orang mulai mengirimkan status “Akhirnya..hujan, aku rindu bau ini.” atau bagi orang Riau hal ini sangat menyenangkan karena akhirnya kebakaran yang berhasil membumihanguskan rumah para orang utan itu mulai berkurang dan asap yang sangat menggagu di Palangkaraya akhirnya berkurang. Terima kasih telah menurunkan hujan, dan persetan kamu tangan jahil manusia yang telah merusak rumah satwa yang dilindungi demi birahi pribadi.

Hujan menjadi hal yang ditunggu layaknya para muslim menunggu lebaran, para penikmat belanja menunggu diskon akhir tahun. Tapi tidak bagiku….

Hati ini, pikiran ini, menurutku memiliki lubang. Tapi, aku tak tahu rasa apa, rasa hilang apa yang membuatku menjadi kosong. Aku tak mengerti. Selamaku mengendarai motor berwarna hijau, selama dijalan aku terus berteriak “Mengapa?! Kenapa?!” lalu aku berpikir apa yang telah hilang.

Apakah rasa “suka” yang pernah aku miliki?

Atau rasa rindu terhadap teman semasaku bersekolah dengan seragam putih abu-abu?

Atau momen dimana aku menghabiskan waktu bersama seseorang yang ku sayangi?

Entahlah, aku pun tidak tahu apa yang sedang menimpaku, aku sendiri bahkan bingung kenapa ini bisa terjadi.
Semenjak kuliah, pola pikirku berubah menjadi rasional. Tak ada didunia ini yang tidak rasional, maka semua perlu di”rasional”kan, tak luput agama.

Tapi, merasionalkan agama bukan artinya aku tidak mempercayai adanya Tuhan. Tentu saja aku masih percaya tapi aku mengubah sudut pandang yang tidak aku ingin percaya.

Sampai aku mengetik ini pun, aku masih tidak mengerti apa yang kosong. Apa yang telah hilang. Mungkin, jika aku membelah dadaku, akan terlihat lubang dijantungnya dan aku mengetahui permasalahannya dimana. Tapi, aku bukanlah mahasiswa kedokteran yang sedang mempelajari pembedahan. Aku adalah mahasiswa biasa, layaknya mahasiswa lain.

Tapi, ada hal yang tidak aku mengerti, kenapa? kenapa? kenapa?

Terlalu banyak pertanyaan di bumi ini, terlalu banyak tanda tanya di hidup ini.

Hidup ini berat, apa mungkin karena aku terlalu serius menganggap hidup ini.

Apa perlu aku menyerah pada hidup ini?

…….

…..

….

..

.

.

 

 

Ah tidak….

Menyerah menjadikanku seperti orang-orang yang tidak layak dilahirkan. Jika aku menyerah lalu mengapa aku dilahirkan? Dibiarkan ikut dalam permainan disini?
Pasti Semesta memiliki niat lain membiarkan aku ikut dalam permainan ini.

Jadi, aku tak boleh menyerah…..
Tapi apa?

Kenapa ada rasa hampa ini? dan bagaimana menghilangkannya?