Sexual Orientation is a Choice?

Sebenernya, gua tidak mempermasalahkan mengenai orientasi seksual kalian. Apakah anda Gay, Lesbian, atau apapun itu adalah hak anda.

Dan gua pun memilih netral untuk perihal ini, tidak pro terhadap LGBT dan tidak juga kontra dengan LGBT, gua tidak akan menjelaskan kenapa gua memilih untuk netral dan tidak berpihak pada satu sisi padahal sisi A mengatas namakan Hak Asasi Manusia, kebebasan untuk menjalankan hidupnya sendiri apapun orientasi seksualnya ataupun sisi B mengatas namakan agama yang mereka bilang telah tertulis di Kitab bahwa hal tersebut dilarang.

Yang ingin gua bahas disini adalah statement temen gua yang menarik untuk dibahas.

cr: giphy.com

cr: giphy.com

“Orientasi seksual itu bukan pilihan, melainkan sudah diberikan sejak kecil!” (kalau gak salah kurang lebih perkataannya kaya gini.)

“…melainkan sudah diberikan sejak kecil!” 
Jika arti dari kalimat ini adalah sejak kecil kita tidak memilih apakah kita menyukai cowok ataupun cewek gua setuju. Tetapi, kalau maksud dari kalimat ini adalah ketika kita lahir bahkan, sudah memiliki pilihan “Bahwa saya akan menyukai sesama jenis” ataupun sebaliknya gua pikir aneh.

Karena, tetiba gua kepikiran bahwa saat kita lahir. Kita dilahirkan secara biseksual. Tanpa ada kecenderungan menyukai gender tertentu. Tentunya hipotesa gua ini hanya berdasarkan pemikiran, dan jika ada penelitiannya pun sangat mudah untuk dipatahkan. Lalu berlanjut ketika kita dewasa, pengalaman bertambah, pola pikir dan sikap ditentukan oleh keluarga dan juga lingkungan yang ia tempati. Seperti sekolah, tempat bermain, les, teman sekelasnya, ekskul yang ia ikuti dan banyak hal lain yang mempengaruhi orang tersebut. Dan semua hal tersebut dapat membentuk seseorang menjadi “orang seutuhnya”.

“Orientasi seksual itu bukan pilihan……” 
Gua masih ragu untuk kalimat ini, tapi dikarenakan terbatasnya pola pikir gua maka gua memutuskan untuk tidak setuju dengan argumentasi ini.

cr: giphy.com

cr: giphy.com

Balik lagi dengan statement gua sebelumnya, bahwa manusia menjadi manusia yang ‘sempurna’ adalah hasil dari penggabungan antara kondisi lingkungan yang ia lewati maupun ia tempati, kondisi mental, dan juga pola pikir yang ia miliki.

Televisi, merupakan media yang (masih) paling berpengaruh di Indonesia walaupun generasi muda sekarang sudah mulai terkontaminasi dengan internet namun tetap saja kemudahan masyarakat Indonesia mendapatkan informasi bersumber dari televisi.

Televisi sering menyiarkan drama dan hampir atau bahkan belum pernah gua melihat ada sinetron yang memperlihatkan pasangan Gay ataupun Lesbian. Karena menurut norma dari masyarakat Indonesia sendiri, hal tersebut adalah tabu diluar dari agama.

Jadi menurut gua, jika ada seseorang yang memiliki orientasi seksual yang ‘tidak pada umumnya’ maka orang tersebut memilih untuk berbeda.

“Tapi mog, gua secara naluriah memilih dia menjadi pasangan. Tidak ada paksaan dan tidak ada persaan berkecamuk di diri gua. Jadi secara normal gua memilih untuk tidak pada umumnya.”

Mungkin, mungkin, mungkin kembali lagi ke hipotesa gua sebelumnya bahwa manusia dilahirkan tanpa memiliki orientasi seksual yang pasti. Makanya gua bilang bayi adalah biseksual. Jadi ketika kita merasakan rasa suka, sayang or whatever it is. Terasa secara alamiah dan tidak merasakan paksaan.

Tetapi, saat kita memilih pasangan tersebut maka secara tidak langsung kita…….istilahnya sudah membuat statement bahwa inilah orientasi seksual saya. Kita sudah memilih ingin yang mana.

cr: giphy

cr: giphy

Jadi apakah orientasi seksual itu merupakan pilihan atau engga gua akan bilang iya, itu adalah pilihan sendiri setiap individu. Karena itu adalah hak mereka sendiri, terlepas dari agama tentunya.

And remember, whatever your sexual orientation is. You’re still a human being that breath the same air with me and live in the same world with me. We are the same and we are not that different in the eyes of Our God.

cr: giphy

cr: giphy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *