[Re-Lihat] Milea: Suara Dilan – Kisah dari Bandung yang baru

Waktu itu gua pernah ngepost mengenai buku sebelumnya yaitu Dilan: Dia adalah Dilanku 1991. Dan menurut gua buku itu berhasil membuat galau gua yang saat itu masih labil juga. (Walaupun sekarang bisa dibilang gak stabil juga soalnya abis baca buku ini)

Dan ini adalah pandangan gua mengenai buku ini. Oh iya sebelumnya gua mau ngingetin kalau….

Post ini mengandung SPOILER!
Kalau mau baca dulu, silahkan tapi kalau bodo amat yaudah baca aja post ini.

credit: giphy.com

credit: giphy.com

credit: ayahpidibaiq.blogspot.com

credit: ayahpidibaiq.blogspot.com

.

.

.

.

Jadi buku terakhir (kayanya terakhir) ini menceritakan dari sisi Dilan. Sisi tokoh utama di buku sebelumnya. Pidi Baiq sendiri mengaku bahwa cerita ini berdasarkan kisah nyata. Tapi, gua gak gitu percaya dan gak gitu peduli juga jika ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Pidi Baiq berhasil merangkai kata yang sungguh enak dibaca, ringan, dan mudah dipahami untuk semua kalangan.

Buku ketiga ini semuanya “meluruskan” apa yang ada di buku pertama dan kedua. Dan berhasil membuat gua galau lagi. Gua rasa media buku merupakan media yang sangat memainkan emosional kita, karena kita memvisualisasikan sebuah tempat, karakter dan hal lainnya sesuai dengan pengalaman kita. Jadi kita merasa berada di dalam cerita tersebut. Sungguh menakjubkan.

cr: giphy.com

cr: giphy.com

Dilan berusaha menjelaskan kondisinya saat Milea sudah marah ketika Akew meninggal. Dilan seperti mencurahkan segala perasaannya, kebingungannya, kehampaan yang ia rasakan. Semua ia tulis. Terkadang ia rindu dengan Milea, ia bahkan sering flashback atau bahkan membuat sebuah ‘drama’ jika Milea berada di tempat itu.

Seperti yang kita tahu, bahwa Dilan hampir sulit untuk move on bahkan ketika dia sudah memiliki pacar sekalipun. Apakah kesulitan Dilan untuk move on menggambarkan semua laki-laki?

Kalau laki-laki tersebut memang sudah jatuh hati, maka tidak mungkin untuk mudah melupakannya. (Kayanya gua tahu banget……hmmm sotoy)
Tapi, kalo laki-lakinya maen-maen doang sih gak bakal segitu galaunya.

cr:giphy.com

cr:giphy.com

Gua sangat amat merekomendasikan series buku ini jika kalian menyukai cerita mengenai percintaan remaja yang ringan dan rasanya ingin nonjok gitu. Semacam film AADC pertama tapi dalam versi buku dan lebih ngena lagi.

One thought on “[Re-Lihat] Milea: Suara Dilan – Kisah dari Bandung yang baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *