Malam Hari di Kota Medan

Hari Minggu, 22 Mei 2017.

Bangun pagi bukan kebiasaan gua, kalau bisa bangun siang kenapa harus bangun pagi?

Ya buat solat subuh mog…. 

Iya bener juga…

Tapi gua jarang bangun jam 3 pagi, dan kalau gua bangun jam segitu pasti berhubungan sama kerjaan. Karena sekali lagi gua tekankan! BAHWA GUA JARANG BANGUN PAGI!!


Nah sebenernya apaan sih kerjaan gua? Okeh kalau kalian maksa buat gua cerita….

Gua kerja di Creative Agency namanya. Kantor gua biasa ngerjain digital video dan juga TV Commercial juga! Dan sekarang dapet project-an untuk mendokumentasikan acara musik dibeberapa kota. Kota terakhir adalah Medan. Kota asing yang gak pernah terpikirkan oleh gua untuk singgah sebentar.

Sesampai di bandara Kuala Namu gua gak langsung keluar tapi nungguin guest star muncul dari pintu kedatangan karena gua harus ngambil gambar ketika mereka datang. (kok terasa aneh yah kalimatnya)

Setelah guest star-nya dateng dan udah ngambil gambar barulah kita ke tempat makan walaupun akhirnya gua gak makan karena harus pergi ke tempat yang lain yaitu Macehat Coffee.

foto dari pegipegi.com dan diambil oleh http://cindytanoto.blogspot.co.id/

Gua bukanlah orang yang suka minum kopi, tapi kalau ada Caffe Mocha maka gua pilih itu. Karena menurut gua, Mocha ini adalah satu-satunya kopi yang engga kopi karena setahu gua komposisi dari minuman ini adalah lebih banyak coklatnya dibandikan kopinya. Gua pesen inilah, minuman datang, gua sruput.

Hanjirlah ini kopinya enak bener. Seneng gua. Enak banget. Sayangnya adalah gua gak beli biji kopinya padahal mereka jualnya relatif murah menurut gua.

Balik ke hotel untuk naro koper dan melakukan hal lainnya seperti membersihkan diri dan lain-lain. Selesai itu semua mulai deh itu uwe bekerja. Dateng ke venue, memantau, merasakan hembusan arah angin, memperhatikan pekatnya warna abu-abu dilangit untuk memperkirakan apakah akan hujan atau tidak. Ya gitu deh heboh kerjaan gua.

Engga deng.

Bercanda.

Penampilan terakhir dari acara musik ini adalah kolaborasi dua band super mantab yaitu Mocca X Payung Teduh. Dua band ini mempunyai banyak kuping yang bersedia duduk dan menggoyangkan kepala mereka sambil ikut bernyanyi bersama. Tak peduli apakah tempat yang mereka tempati sangat sempit ataupun tidak kondusif, namun pada malam hari itu langit di kota Medan sangat mendukung untuk mengondoy sendu bersama-sama.

Acara selesai jam 12 malam. Crew dokumentasi mulai turun ke jalan Medan untuk mencari warung makan karena kita belum makan malam. Terlalu asik untuk mengingat masa lalu dengan alunan lagu Mocca dan lagunya Payung Teduh. Tenda yang kita hampiri adalah tenda Nasi Goreng.

Nasi….. Goreng….

Sampai sekarang gua masih bingung dan suka senyum-senyum sendiri (semacam kaya jatuh cinta gitu senyam-senyum sendiri) kenapa berkunjung ke kota orang tapi makannya nasi goreng juga pada akhirnya?

“Nasi goreng ini terkenal mo dan enak!!” Begitu kata salah satu crew. Gua panggilnya Om Tj. Karena udah Om, dan namanya Tj. Jadi Om Tj.

Selesai makan, kita nyari duren. APALAH ARTI KOTA MEDAN JIKA KITA TAK SEMPATKAN MENEMUI BUAH BERDURI INI?!

Selama diperjalanan yang sepi itu, gua ngeliat kota Medan ini sama kaya kota kesayangan gua yang gak pernah gua menetap lama disitu, Bandung.

Gedung-gedung lama yang berjejer, tidak terawat namun masih terlihat kokoh dan juga indah. Udara yang menyenangkan. Jalanan yang agak lebar namun terlihat lebar karena sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Aku rindu Bandung.

Selama diperjalanan gua senyam-senyum sendiri membayangkan kalau gua berada di kota Bandung, ditemani lagu Mocca ‘On the Night Like This’ yang terpasang dikuping gua…..

 

 

Gua ketiduran…..

 

One thought on “Malam Hari di Kota Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *