Jangan Iri sama Tiongkok!!

Beberapa hari belakangan ini ada info yang beredar mengenai pekerja kasar dari negara PRC yang masuk dengan banyak. Masyarakat heboh dengan hal itu, hingga presiden mengeluarkan pernyataan bahwa hal tersebut adalah ke-irian yang fana, yang tidak ada dasarnya. Bahkan beritapun meliput sebenernya berapa sih pekerja dari negara panda tersebut.

Tapi, perlu gua akui bahwa keuletan pemerintah tiongkok untuk menghalalkan segala cara agar negaranya bisa menjadi negara paling pertama ini gila banget. Meskipun dengan kebijakan yang super ketat di negaranya, tapi mereka tetep bisa nyelip biar produk luar gak masuk sembarangan di negara mereka, tapi mereka bisa menjual produk mereka seenaknya.

Sebelum lebih lanjut gua khotbah, gua bakal cerita dari sisi ini.

Beberapa hari yang lalu sebelum tahun berganti menjadi 2017. Gua nonton film ‘Hangout’ karya Raditya Dika (Filmnya jelek engga, tapi bagus banget juga engga. Cerita perkenalan tokohnya kurang ‘sreg’ tapi pas udah dipertengahan cerita udah mulai pas. Cerita klise dan lucu, jadi okelah cukup). Sebelum film itu dimulai, ada tiga trailer film yang dimainin yaitu ‘The Great Wall’, gak tau lupa, sama film Jackie Chan yaitu ‘Railroad Tiger’.

Betapa takjubnya gua setelah beberapa hari nonton video dari Vox, dan ternyata china udah mulai memangsa pasar Holywood!

Perasaan sirik yang ada di masyarakat Indonesia ini terhadap negara tirai bambu ini menurut gua tidak begitu penting dan bahkan malah membuat negara sendiri gak maju.

Gua pernah ngerasa iri pas SMA. Dimana waktu itu anak-anak IPA ngambil lahan anak jurusan IPS. Tapi, setelah gua pikir-pikir ya untuk apa. Ga guna juga gua iri sama mereka karena ketika gua iri mereka berusaha untuk mendapatkan kursi universitas yang gua mau. Jadi kalau gua gitu terus ya anak IPA dapet kursi di jurusan anak IPS dan gua cuman dapet dongkolnya doang gak dapet apa-apa. Jadi setelah itu yaudah gua bodo amat dan mulai belajar. Walaupun pada akhirnya gua gak dapet, tapi ya udah belum rejeki kali. (beda urusan lagi kalau rejeki-rejekian)

Rakyat Indonesia ini terlalu banyak mengeluh dan gak gerak. Gua sendiri tidak mempermasalahkan kalau lu mau mengeluh, itu adalah hak lu dan menurut gua lu wajib untuk ngeluh ya minimal mengurangi sedikit beban yang ada di diri lu. Tapi, setelah mengeluh atau sambil mengeluh, ya kerjain juga kerjaannya atau lakukan suatu perubahan.

Menurut gua, perspektif ini yang harus dirubah. Kalau gagal boleh mengeluh tapi jangan terlalu lama. Filterisasi terhadap media juga diperlu untuk dipelajari ketika ada di duduk bangku sekolah. Mungkin kurikulum pendidikan di sekolah dasar sampai menengah atas harus diubah dan dimasukan semacam fondasi mental dan perspektif tidak menyerah.

Itu yang harus ada di generasi selanjutnya rakyat Indonesia.

Terus gimana sama generasi tua yang sudah bebel?

Buat semacam propaganda pembenahan mental melalui televisi, radio, internet, dan juga media tulis.

Secara perlahan pasti mereka bakal berubah mengikuti arus, walaupun berubah sedikit tapi setidaknya itu adalah perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *