Internet Itu Kanker.

Internet sudah menjadi hal yang wajib di era sekarang. Orang bisa berubah menjadi lebih panik, atau merasa dunia berjalan lambat jika tidak mengakses internet sehari. Kekuatan internet ini sangatlah kuat, layaknya tayangan iklan kepada anak kecil. Saking kuatnya, orang dengan mudah percaya apa yang ada di internet dan menelan informasi tersebut dengan bulad-bulad (yes gua nulis sengaja pake D karena emang ‘mentah’ banget informasi yang ditelan.) sehingga mereka melupakan kelemahan yang paling fatal karena telah menelan informasi bulad-bulad.

cr:giphy

Sebelum gua melanjutkan opini gua, gua mau cerita dulu apa yang gua rasakan belakangan ini…..

Huwelah..gak penting mog! Langsung aja ke intinya! Apa yang salah kalau gua nelen informasi bulad-bulad!

Kalem dong! Kan blog gua jadi nyante ajaaa, selow lah.

cr:giphy

Jadi belakangan ini, pasti udah tahu banget pilkada Ibu Kota Indonesia Raya ini mempunyai news value yang sangatlah menarik untuk dijadikan perhatian oleh masyarakat Indonesia. Padahal gak tinggal di Jakarta dan tidak ikut memilih atas nama rakyat Jakarta. Tapi mereka ikutan berkoar dan mengeluarkan teori-teori mantap yang hasilnya masalah ini menjadi besar. Permasalahan di Pilkada Jakarta bukanlah permasalahan yang sederhana, melainkan (menurut gua) adanya kepentingan beberapa pihak yang akhirnya berkembangkan menjadi besar, dan topik ras dan agama yang berbeda dengan mayoritas menjadi alasan.

Gua gak akan membahas lebih lanjut mengenai ras dan juga agama. Karena gua merasa bahwa gua tidak memiliki informasi yang cukup untuk mengatakan bahwa gua ada di sisi yang mana. Tapi, yang mau gua komen adalah informasi di Internet yang membuat gua sangat stress.

Kok bisa sih mog. itu kan di Internet kenapa elu yang stress? Gak usah terlalu dipikir serius lah….

Ini menyangkut permasalahan mayoritas dan minoritas.

Nah….gini mog, lu lahir di Bandung. Pulau Jawa, deket sama Ibu Kota negara juga gak gitu jauh. Dan elu memeluk agama yang mayoritas di Indonesia, kenapa lu merasa tertekan?

Meskipun latar belakang gua ini bisa dikategorikan sebagai mayoritas. Tapi, gua pernah dan masih menjadi ‘minoritas’ dari aspek lain. Gini, gua adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kaka gua ini cerdas, masuk ke kelas prestasi dan banyak hal yang membanggakan di kaka gua ini. Sementara gua, untuk dari sisi akademik. Sangatlah mengecewakan. Gua inget pas SD belajar matematika, gua engga ngerti-ngerti  dan akhirnya nyokap gua marah karena gua gak ngerti juga. Guru sekolah kaka gua manggil orang tua gua karena kaka gua mendapatkan penghargaan karena prestasinya, sementara gua selalu dipanggil orang tua karena selalu hampir gak naik kelas (dari 30 siswa gua ranking 28 pas SMA).

Meskipun gua masuk universitas bergengsi di Indonesia, tetapi fakultas/program gua cukup di pandang sebelah mata oleh banyak orang. Orang merasa bahwa D3 ini kurang memadai dibandingkan S1 (entah kenapa orang mikir kaya gitu, padahal kalau lu mau cari yang bisa langsung kerja ya ambil anak D3. Mereka gak butuh waktu lama untuk beradaptasi cara kerja dan menghasilkan kualitas yang baik). Dikampuspun fakultas/program gua ini selalu di anak tirikan. Gua ikut organisasi BEM dan masuk menjadi anggota Kajian Aksi dan Strategi atau Kastrat. Tahun berikutnya, gua daftar organisasi tingkat universitas yang memiliki kewenganan tertinggi dibandingkan organisasi lain di kampus. Gua selalu bertanya mengenai fakultas gua tetapi gitu aja. Nihil.

Oh iya, pas di SMA juga. Gua masuk jurusan IPS. Ada sekolah yang IPS-nya bagus. Tetapi, orang tua gua yang keduanya berasal dari IPA dan kaka gua juga IPA. Masuk IPS adalah suatu beban tersendiri, walaupun gua juga gak mau memaksakan diri gua sendiri.

Balik lagi ke internet, karena hal yang diatas maka dari itu gua sangat merasa terpojok ketika pembahasan mulai masuk ke mayoritas dan minoritas. Setiap hari gua selalu merasa bahwa negara ini, negara Indonesia, sudah mulai hilang akalnya. Sudah hilang rasa empati dan simpati terhadap sesama manusia. Hanya nafsu yang menguasi dan mata hati menjadi buta.

Gua mikir kenapa bisa sampai di titik ini, kenapa gua sampe panik sedemikian rupa padahal di sekeliling gua terlihat biasa saja. Apa mereka acuh terhadap hal ini? atau mereka tidak tahu akan hal ini?

Setelah gua pikir, mungkin permasalahannya adalah informasi yang gua telan bulad-bulad ini. Kelemahan dari informasi yang cepat adalah tidak adanya verifikasi lanjutan mengenai berita tersebut. Apakah benar atau salah. Sekarang banyak banget media-media bodong yang mengatasnamakan indepedensi berita atau berita untuk rakyat atau apapun yang memiliki kesan bahwa mereka ada di sisi masyarakat dan menjunjung tinggi kebenaran padahal engga. Semua orang butuh uang untuk mengisi perut mereka, dan juga membayar tagihan mereka. Disatu sisi okay namanya juga kerja, tapi di sisi lain ini adalah penyadaran untuk seluruh pengguna internet yang tidak mengenal literasi media, bahwa tidak semua yang ada di internet itu benar jadi harus dicek ulang lagi beritanya.

Akhirnya, gua nge-unfollow beberapa akun di twitter. Dengan niat biar gua bisa menjadi lebih ‘tenang’ lagi. Tapi, pertanyaan berikutnya muncul. Kalau akun yang gua unfollow ini ternyata menyebarkan sebuah kebenaran dan gua tidak mengetahuinya. Apakah artinya gua tutup mata akan fakta? Apakah boleh menutup sebuah fakta untuk ketenangan yang hanya sesaat?

2 thoughts on Internet Itu Kanker.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *