Bulan April Tahun 2017

Duduk di pojok restoran cepat saji Amerika dengan satu donat Triple Chocolate dan juga Ice Chocolate. Ngelamun mikirin apa yang mau gua tulis. Karena gua punya banyak topik tapi gak tau mau mulai dari mana dan bagaimana menyampaikannya.

Sembari garuk-garuk kepala karena udah lama gak keramas, gua kepikiran buat bikin semacam summary hingga post ini gua tulis. Tanggal 1 April 2017 di Dunkin Donut BSD. Gua mikir keras apa yang asik buat dibahas. Meja sebelah lagi ada orang yang privat gitu, gak tau pelajaran apaan tapi kaya semacam jurusan TI. Tapi gak paham gua yang penting mereka kaya ngisi form gitu.

Sementara gua abis ngerjain quiz yang gua ngarang bebas dan dapet 60 semua mata kuliah (Alhamdulillah syukuri aja, gak belajar aja dapet segitu gimana kalau belajar?)

Tapi, menurut gua ada yang lebih menarik yaitu membahas pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Buat kalian yang merasa kurang tertarik silahkan gak apa kalau mau di close tab-nya tapi perlu gua kasih tau kalau gua lagi tidak mengikuti berita ini jadi hanya melihat dari satu sisi.

Gak objektif?

Ya biar bukan jurnalis ini….opini saya juga ini kok.

Menurut gua dua pasangan ini adalah pasangan terbaik bagi calon mantan ibu kota Indonesia, DKI Jakarta. Kenapa? Karena dua orang ini memiliki kecerdasan tersendiri di bidangnya masing-masing. Kedua calon ini memiliki perbedaan yang sangat jauh dari bagaimana cara mereka bertutur kata dan banyak hal lainnya.

Tetapi, panggung politik pilkada DKI semakin ‘kotor’ dan juga tidak masuk diakal. Bukannya saling memberikan program terbaik mereka tetapi malah memanfaatkan para simpatisan mereka untuk menyerang pihak satu lagi.

Mog…simpatisan ini sangatlah besar jumlahnya dan tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Gimana bisa mengatur seluruh simpatisan dengan dana pemberian yang tim sukses utamanya juga tidak tahu dapat dari mana?”

Gini, kalau mengatur para simpatisan untuk bermain secara adil saja tidak bisa, bagaimana calon pemimpin ini mengurus ibu kota yang banyak sekali rakyat ‘selundupan’ dari luar Jakarta untuk tinggal di kota ini?

Entah kenapa gua merasa bahwa menggunakan alasan tidak dapat mengatur para simpatisan ‘terselubung’ bukan menjadi permasalahan utama mereka. Kalau dipikir-pikir memang benar, bahwa para simpatisan terselubung ini memberikan banyak manfaat kepada calon pemenang. Karena mereka tidak perlu mengeluarkan cost lebih untuk simpatisan tersebut. Bahkan dampak yang dihasilkan oleh para simpatisan terselubung ini bisa lebih kena kepada calon pemilih dibandingkan simpatisan yang resmi mereka danai.

Tetapi, para simpatisan ini bagaikan pedang dengan dua mata. Iya bukan sih gitu perumpamaannya?

Maksudnya punya dua sisi yang sama-sama super tajam jadi bisa menyakiti musuh tetapi juga bisa menyakiti diri sendiri. Justru hal tersebut yang menurut gua sangatlah bahaya. Mungkin kalian bisa menggunakan metode cocokologi dengan kejadian nyata saat ini.

Dan karena itu juga gua mulai mengurangi berita lokal dan lebih memperbanyak nonton acara korea dan juga Cartoon Network. Gua ngerasa bahwa media terlalu sadis dalam memberikan sebuah pemberitaan bahkan terkadan fakta yang diberikan sangatlah dikit dan lebih banyak opini didalamnya. Opini yang sengaja memanas-manaskan apa yang sudah panas.

Bapak presiden kita waktu putaran pertama melakukan manuver yang cukup menyejukan yaitu bertemu dengan beberapa petinggi partai yang sebelumnya hal tersebut jarang dilakukan dan menurut gua belum pernah dilakukan oleh presiden sebelumnya. Kondisi sempat renggang, situasi kondusif saat itu tetapi ketika putaran satu tidak dapat diselesaikan, suasana kembali memanas dan sudah tidak jelas arah perdebatan ini. Menggunakan segala hal untuk meraih kemenangan.

 

One thought on “Bulan April Tahun 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *